Senin, 16 Mei 2011

Kekerasan Air (Water Hardness)

Saat mengembangkan pengetahuan mengenai bagaimana memelihara flora dan fauna akuarium dengan baik, para hobiis menggunakan parameter-parameter kimia selain kadar amonium, nitrat dan nitrit. Sekarang, kita akan melihat berbagai parameter kimia agar bisa lebih leluasa membangun akuarium berkualitas, sesuai dengan ketersediaan modal yang ada.

Faktor Kalsium dan/atau Magnesium

Lucy Chen (2009)
Universitas Arizona
(Sumber: Youtube)
Menurut Lucy Chen, yang menggeluti bidang uji kualitas air di Universitas Arizona, kita bisa mengukur derajat water hardness dengan menggunakan set alat tester kecil yang menghitung konsentrasi ion kalsium (Ca) atau magnesium (Mg). Tester kecil  komersil bisa dibeli di berbagai pet shop atau toko khusus barang-barang keperluan hobi di Jakarta.

Lucy juga menjelaskan bahwa ada metode-metode lainnya yang tidak tidak secara langsung menghitung kadar ion, yaitu kadar zat pada terlarut dan konduktivitas listrik air. Berbagai metode ini tidak praktis karena hanya mendeteksi secara tidak langsung derajat kekerasan air dan perlu langkah lanjutan lain untuk mengetahui nilai kekerasan yang dicari.

Berbagai merk tester akan memiliki cara pakai berbeda-beda, termasuk pada ukuran satuan. Para pengguna perlu memperhatikan seksama bagaimana produk yang mereka beli membuat semua ketentuan, termasuk urusan satuan.

Para ahli menetapkan menggunakan satuan GH dalam mengukur kadar kalsium dan magnesium tadi. Untuk mengubah satuan GH ke ppm (parts per-million), cukup dengan mengalikan nilai GH dengan 17,9.

Sedangkan KH adalah satuan yang biasa menjadi acuan kadar alkalinitasi air, para ahli mempergunakannya dalam menghitung nilai kalsium karbonat maupun bikarbonat di dalam air. Sama seperti GH, untuk mengubah KH ke nilai ppm, cukup dengan mengalikan nilai KH dengan 17.9.

Sumber air rumah tangga kita, baik di sumur maupun botolan, umumnya mengandung sedimen magnesium dan kalsium dalam kadar tertentu, selain juga melarutkan banyak zat lain. Kadar magnesium/kalsium harus dipastikan agar dapat sesuai dengan nilai kadar kekerasan air dengan daya adaptasi flora-fauna (flona) yang hendak ditempatkan di akuarium.

Berbagai sumber memiliki perbedaan klasifikasi untuk tingkat kekerasan air. Tabel nilai GH berikut (sumber di sini), dapat menggambarkan luasnya spektrum kadar kekerasan air:

 KlasifikasiGHPPM
Sangat halus0 - 40 - 70
Halus 4 - 8 70 - 140
Menengah  Keras8 - 12140 - 210
Cukup Keras12 - 18 210 - 320
Keras18 -30 320 - 530
Sangat KerasDi atas 30Di atas 530

Flona yang Cocok

Memiliki ketahanan
kekerasan air berbeda

Atas: Udang Sulawesi
Bawah: Udang "Crystal
Red Shrimp
" (CRS)
(Sumber: Wikimedia)
Udang Sulawesi, misalnya, secara alami hidup di daerah vulkanis yang memiliki air dengan nilai kekerasan "keras-bawah" (bernilai sekitar 8 GH - 12 GH). Udang ini tidak dapat dicampur dengan CRS, yang hanya hidup di dalam air "lunak" (antara 4 - 8 GH), sehingga kita tak bisa memeliharanya dalam satu tangki akuarium dengan udang Sulawesi.

Pengetahuan tentang kondisi air adalah modal terpenting untuk bisa mengembangbiakkan flona akuarium. Kemampuan mencocokkan kadar kekerasan air yang dimiliki dengan daya tahan alami flona akan mengurangi resiko kerugian para hobiis karena kematian mahluk yang mereka pelihara.

Kadar karbonat yang sangat rendah -- ditandai dengan KH kecil, akan menyulitkan tanaman menyerap unsur karbon untuk melakukan fotosintesis. Untuk meningkatkan jumlah karbon dalam air, para hobiis akan menggunakan substrat (dasar akuarium) berkadar karbon tinggi untuk membantu flora peliharaan  melakukan fotosintesis.

Namun, bila ingin memelihara udang CRS misalnya, meletakan kulit kerang di dalam akuarium akan sangat berbahaya. Kulit kerang mengandung kalsium yang dapat meningkatkan nilai KH air sehingga akhirnya dapat menyiksa dan akhirnya membunuh udang mini ini.

Menambahkan air distilasi atau air hujan tampungan ke air yang berat bisa menjadikan air lebih soft. Sedangkan membubuhi soda kue (baking soda), garam laut/akuarium, garam inggris, bisa meningkatkan nilai kekerasan air.

Pada video berikut, seorang hobiis aquascaping asal Swedia menampilkan akuarium besarnya yang berisikan khusus ikan-ikan soft water. Salah satu hewan yang ia pelihara di akuarium tersebut, Pangio kuhlii, merupakan ikan tawar asli Indonesia.





Sabtu, 14 Mei 2011

Menguji Kadar Amonium, Nitrit, dan Nitrat

Siklus amonium - nitrit - nitrat
Menunggu sebelum akuarium baru menjadi "matang", ditandai dengan menurunnya kadar
amonium dan nitrit. Kadar nitrat diketahui sering tetap tinggi di akuarium, terutama karena
zat ini memang merupakan hasil akhir rantai konsumsi bakteri yang umum hidup di akuarium.
Meski paling tidak beracun, jumlah nitrat harus dikurangi dengan cara mengganti air lama dengan yang baru. 



Berbagai penguji kadar
nitrat/nitrit
Atas: celup lakmus
Bawah: menggunakan reaksi
(Foto CC, atas: play-with-water.ch/
bawah: http://imageshack.us)
Untuk mengetahui apakah koloni bakteri yang menguraikan nitrit dan nitrat sudah mencapai jumlah mencukupi di dalam akuarium, kita perlu untuk mengetahui jumlah kadar nitrit dan nitrat di akuarium. Untuk menghemat dana, kita bisa menganggap bahwa uji amonium tidak terlalu perlu bila sudah memakai produk bacteria starter dalam jarak waktu yang cukup jauh sebelumnya (Baca "Akuarium Baru Perlu "Bacteria Starter"").

Sedikit googling, kita bisa mendapatkan informasi tentang berbagai perangkat penguji komersil (tester) kadar nitrit dan nitrat air akuarium. Cara pakai penguji manual ada yang sekedar hanya perlu pencelupan kertas strip lakmus, sedang jenis lainnya ada perlu upaya pengolahan zat-zat kimia dengan botol reaksi seperti pekerjaan ala laboratorium kimia (lihat foto ilustrasi di samping).

Peter, seorang hobiis akuarium asal Australia pernah menguji banding kualitas hasil akhir dua macam  produk tester amonium/nitrit/nitrat berjenis "celup" dan "reaksi" tadi. Lewat youtube, ia menampilkan hasil uji bandingnya yang mendapatkan bahwa jenis "celup" tak memberikan hasil meyakinkan.

Contoh Desain
Penguji Elektronik
Amonium, Nitrit,
dan Nitrat
(Foto, CC:
absolute-koi.com)

Penguji "celup" yang ringkas ternyata malah akhirnya menghasilkan parameter warna membingungkan, bahkan mubazir. Sedangkan penguji "reaksi", yang meskipun perlu pekerjaan ekstra, memberikan hasil yang akan menyesatkan pelakunya.

Perbedaan kualitas bisa kita pahami, karena uji "reaksi" kadar nitrit dan nitrat bekerja secara bertahap melepaskan senyawa masing-masing dari larutan air sebelum memberikan hasil yang kasat mata. Sedangkan cara instan tester celup, sulit membayangkan bagaimana langkah kerjanya sehingga memberikan hasil valid.

Kita tak bisa melakukan uji manual cara "reaksi" nitrit dan nitrat sekaligus, karena metode untuk keduanya menggunakan bahan reaksi berbeda. Perlu sedikit upaya sebelum mengetahui masing-masing kadar amonia/nitrit/nitrat di akuarium kita.

Di kemasan perangkat tester "reaksi" nitrit dan nitrate akan dikelengkapi dengan petunjuk penggunaan. Saat membeli, perhatikan jumlah maksimum pengetesan dan waktu kedaluwarsanya.

Upayakan membeli tester hanya di toko terpercaya.

Bila ingin yang lebih praktis, kita bisa menggunakan jenis penguji amonium/nitrit/nitrat berbentuk pencacah elektronik. Nyaman, namun memiliki kelemahan akan harganya yang relatif lebih mahal hingga jutaan rupiah -- dan untuk desain merek tertentu, masih memerlukan biaya ekstra untuk membeli zat pereaksi secara berkala.

Seandainya tidak ingin terlalu menghabiskan uang untuk semua jenis tester ini, sebaiknya kita mengingat dengan baik untuk mengatur tempo dalam mengolah isi akuarium (lihat grafik "Siklus amonium - nitrit - nitrat" di bagian atas artikel ini). Jangan sampai memotong siklus pertumbuhan bakteri, dan rajin-rajinlah mengganti air secara berkala.

Tanaman, akan membantu menyerap amonia. Namun bila kurang sabar, kita bisa menyiksa bahkan membunuh hewan (dan tanaman) di akuarium, seperti terlihat dalam rekaman video ikan yang keracunan amonia berikut ini:




Minggu, 08 Mei 2011

Akuarium Baru Perlu "Bacteria Starter"

Biolite - G, produk bacteria starter
untuk mempercepat masa cycling 
tanki akuarium baru
(Gambar: screenshot situs Biolite - G)
Lewat artikel "Bakteri Bukan Sekedar Pelengkap Aquarium", kita tahu bahwa akuarium baru perlu melewati masa cycling, untuk mengembangbiakkan cukup banyak koloni bakteri sebelum bisa menyokong kehidupan ikan di akuarium. Berkat bioteknologi, jumlah ideal koloni bakteria di dalam akuarium baru dapat lebih cepat tercapai, lewat produk bacteria starter.

Salah satunya adalah Biolite-G, produk yang mudah ditemui di toko penjual ikan hias di Jakarta. Harga terjangkau, produk semacam ini akan membantu mencegah hewan akuatik kesayangan hobiis aquascaper mati karena keracunan kadar amonia berlebihan.

Adalagi fungsi produk bacteria starter, yaitu mencegah munculnya ledakan alga di akuarium yang bisa membuat air menjadi hijau atau kecoklatan. Tak hanya di masa akuarium baru dipasang, dari waktu ke waktu, alga dapat tiba-tiba berkembang sehingga membuat air menjadi keruh.

Alga adalah bagian dari spesies flora tingkat rendah yang mampu menyerap mineral jauh lebih cepat dibanding  tanaman hias akuarium. Secara jangka panjang, ledakan alga menjeblokkan mineral yang berguna bagi tanaman, juga menurunkan kadar oksigen hingga menyiksa sebelum akhirnya membunuh ikan di akuarium.

Bacteria starter biasanya mengandung beberapa bibit bakteri yang sudah didormansikan. Dikemas dengan bahan penyerap air, seperti tanah liat Montmorillonite, bakteri dapat "tidur" sebelum menjadi aktif segera setelah memasuki habitat idealnya (seperti akuarium).

Donor Bakteri

Dr. Tim Hovanec
Marineland Aquarium Products
(Foto: Youtube)
Cara lain untuk mendapatkan bakteri adalah dengan menggunakan air dari akuarium yang sudah matang. Dengan demikian, bakteri dari akuarium lama yang sudah terbukti mampu menguraikan amonia secara sempurna, diharapkan akan berpindah dan berkembang biak dengan lebih cepat di tempat baru.

Pemelihara akuarium profesional pun menggunakan cara donor semacam ini. Misalnya, Dr. Tim Hovanec yang menjual dan mempergunakan bacteria starter botolan hasil kultivasinya sendiri, untuk membantu akuarium raksaksa milik instansi tertentu.

Klien Dr. Hovanec sangat memerlukan bacteria starter untuk membantu bisnis jutaan dollar marine park agar bisa segera beroperasi menerima pengunjung, tak harus menunggu ratusan hari sebelum jutaan liter air akuarium mereka cukup terisi bakteri pengurai amonia. Klien Dr. Hovanec antara lain London Aquarium, dan Sea Life Aquarium di Arizona, Amerika Serikat.

Memiliki produk bacteria starter bisa terasa lebih menguntungkan karena menjamin bebas ketergantungan terhadap akuarium lama. Di samping itu, produk semacam ini juga dapat setiap saat dipergunakan pada filter akuarium, yaitu menguraikan kadar amonia yang muncul dari sisa makanan fauna akuatik kesayangan.

Jadi, tanyakan pada toko hewan kesayangan Anda, produk bacteria starter apakah yang mereka jual.

Bakteri Bukan Sekedar Pelengkap Aquarium

Siklus nitrogen (N) di alam
Amonium (NH4) yang berasal dari mahluk hidup, diurai oleh bakteri menjadi nitrit (NO2) dan nitrat (NO3)
(Sumber: Wikipedia)



Di alam bebas, ikan tak mengalami keracunan oleh kotoran ataupun sisa metabolisme tubuh mereka sendiri. Beda halnya dengan sistem tertutup di akuarium, hobiis harus memperhatikan dengan seksama supaya hasil buangan hewan akuatik tak jadi bahan berbahaya.

Bakteri, kendati tak kasat mata, namun punya peranan penting menjaga kualitas akuarium hingga bisa menciptakan lingkungan hidup di alam bebas. Mereka secara alami ada di mana-mana, namun koloni bakteri menguntungkan di akuarium jumlahnya bisa tak mencukupi untuk melakukan tugas mengurai sisa metabolisme mahluk hidup yang hobiis pelihara.

Sindrom akuarium baru (new tank syndrome), merupakan salah satu kejadian umum yang menandai kurangnya kehadiran bakteri menguntungkan tersebut. Mahluk bersel tunggal perlu waktu untuk berkembangbiak, sebelum mencapai tahap setimbang terhadap jumlah makanannya.

Nitrosomonas
(Sumber:
http://commtechlab.msu.edu/)
Sisa makanan, kotoran, jasad renik, maupun hasil metabolisme hewan akan menaikkan kandungan amonia di dalam air. Amonia ini kemudian diubah oleh jenis bakteri nitrifikasi -- yang mengubah amonia menjadi nitrit, kemudian nitrat.

Bakteri Nitrifikasi

Nitrosomonas, salah satu jenis bakteri nitrifikasi yang mengubah amonium menjadi nitrit, tak menyukai cahaya. Dalam jumlah berlebihan mereka akan menggumpal untuk memblokir berkas sinar, sehingga akan membuat air terlihat keruh.

Nitrospira, adalah bakteri akuarium yang kemudian menguraikan nitrit, menjadi nitrat. Mereka perlu waktu relatif lama untuk berkembang biak, karena di samping tidak bisa membelah diri secara cepat, nitrospira harus menunggu hasil "kerja" bakteri lain (misalnya nitrosomonas) untuk menyediakan nitrit, "makanan" mereka.

Filter dan ornamen akuarium,
tempat bakteri berkembang biak
(Sumber: Wikipedia)
Di darat, amonia bermanfaat sebagai pupuk tanaman, namun bagi hewan akuatik zat ini sangat beracun, bahkan dalam jumlah sangat kecil sekalipun. Nitrit dan nitrat tak mudah diserap tanaman, apalagi oleh tumbuhan yang baru saja ditempatkan di akuarium.

Itulah sebabnya, secara berkala air di dalam akuarium harus diganti secara berkala, karena akumulasi nitrat akhirnya juga akan menjadi racun bagi flora dan fauna akuatik di dalamnya. Hobiis juga sering menempatkan ornamen, filter, maupun kerikil substrat (materi dasar akuarium), yang tidak boleh dibersihkan secara berlebihan untuk mencegah punahnya bakteri nitrifikasi.

Kotoran padat -- seperti batang tumbuhan yang mati -- tetap harus dibersihkan, karena zat glukosa yang ada di dalamnya bisa mengundang tumbuhnya bakteri berbahaya (patogen). Bakteri Aeromonas hydrophila, misalnya, dapat memanfaatkan sisa gula, kemudian masuk ke organ tubuh hewan dan memakan sel darah merah mereka.

Menunggu Koloni Bakteri

Tangki akuarium yang sudah matang, tandanya sudah memiliki cukup banyak bakteri nitrit dan nitrat sehingga mampu menyerap semua amonia yang dihasilkan oleh mahluk hidup di dalamnya. Biasanya, orang memperhitungkan tahap tersebut baru tercapai bahkan hingga dua bulan  bulan (delapan minggu) setelah pertama kali akuarium dipasang.

Proses menunggu tumbuhnya koloni bakteri secara seimbang ini disebut sebagai tank cycling. Biasanya dilakukan dengan membiarkan akuarium terisi tanpa hewan, dengan tetap menjalankan pompa air dan udara untuk menyuplai cukup oksigen bagi bakteri agar bisa tumbuh berkembang.

Seorang hobiis yang serius akan menggunakan ammonium/nitrate tester untuk menentukan seberapa sering dan berapa banyak air akuarium harus diganti. Sebagai referensi umum, Tony Griffitts dari media aquaworldaquarium.com sudah memberikan "kalkulator" gratis yang bisa dipergunakan untuk keperluan menghitung pergantian air hingga tangki menjadi matang [unduh di sini, xls, 55 KB].

Hewan yang tinggal di air mengandung terlalu banyak amonia, nitrat, maupun nitrit, meskipun tetap mampu bertahan hidup, sebetulnya mereka mengalami stres yang menyedihkan. Seperti bila kita menghirup udara kotor, hewan-hewan ini akan berupaya dengan susah payah mencari tempat lebih nyaman hingga ke dekat permukaan air/gelembung udara atau bernafas lebih cepat, demi mencoba bisa merasa lebih lega.

Seorang hobiis yang bertanggungjawab, tentu tak ingin menyiksa apalagi membunuh hewan dan tumbuhan peliharaan mereka, bukan?




Akuarium baru, yang tengah mengalami  pembengkakan jumlah bakteri sehingga airnya menjadi keruh.
Bakteri perlu dikendalikan dengan menggunakan sinar UV, untuk mengurangi jumlah berlebihan mahluk uniseluler tersebut. Bakteri menguntungkan yang tinggal di filter/atau lapisan atas substrat, akan selamat dari pijaran lampu sinar UV.




Kamis, 05 Mei 2011

Aquascape, Hobi Bergengsi Tinggi

Aquascape, secara sederhana berarti menata taman dengan menggunakan terutama tanaman perairan. Memelihara tanaman air sangat mengasyikkan, karena selain tumbuhan, kita bisa sekaligus memelihara ikan hias, udang, kepiting, atau hewan air lainnya.

Di alam, kita bisa menemui tanaman air hidup dalam tiga tipe habitat. Ada yang tumbuh di daerah basah (wetlands), perairan tenang (seperti kolam), atau berarus kencang (misalnya di sungai atau saluran air).

Tanaman bawah air dalam kondisi alami
(Photo: Wikimedia)
Flora air adalah penopang kehidupan bagi hewan di segala macam habitat akuatik tadi. Mereka tumbuh sebagai produsen utama bahan makanan, pengurai, maupun penghasil oksigen yang dibutuhkan dalam metabolisme mahluk hidup air.

Di kondisi alami, alam mengatur bagaimana hewan dan tumbuhan dapat saling bergantung. Aliran air yang keluar-masuk, radiasi cahaya matahari, sumber mineral, semuanya saling berjalan dengan menghasilkan keseimbangan oleh tanaman dan akhirnya menentukan kehidupan hewan perairan.

Lain halnya dengan sistem buatan manusia, yang meniru kondisi alami dengan persediaan sumberdaya jauh lebih terbatas dibanding kemampuan daya dukung alam. Tantangan dalam aquascaping adalah bagaimana kita bisa memadukan ilmu pengetahuan untuk mengerti dan meniru cara kerja alam akuatik, dan mengeksplorasi imajinasi dalam mengolah tata ruang demi menciptakan bentuk indah nan alami.

Desain aquascape akuarium
 - gaya natural
(Photo: Peter Kirwan/Wikipedia)
Seorang penggiat aquascaping, harus berpikir dan terus-menerus berupaya agar flora dan fauna yang mereka pelihara dapat hidup dan menghasilkan pemandangan menakjubkan. Upaya penuh akal-budi ini akhirnya akan mengajarkan banyak hal bagi sang hobiis, tak akan habis mengungkapkan keajaiban alam dalam memelihara hidup kita, manusia.

Saratnya kebutuhan prasyarat daya pikir dan estetika dalam menjalankan hobi aquascaping telah membuatnya menjadi kegemaran bergengsi bagi masyarakat maju yang sudah berjasa mengembangkan ragam teknik penataan dan pemeliharaan taman air ini. Kini giliran kita, orang Indonesia, yang mewarisi alam tropis kaya untuk mengembangkan lebih jauh hobi aquascaping.

Jika Anda masih ingin pikir-pikir menjadi penyuka aquascaping, ingat saja adalah hobi ini bergengsi karena menunjukkan peradaban masyarakat maju yang mumpuni dalam ilmu pengetahuan dan memahami sisi estetika. Yuk, mulai hobi aquascaping dari sekarang?









Kondisi alami tanaman air di lingkungan akuatik natural seperti ini adalah yang menjadi inspirasi bagi para hobiis aquascaping.